"GREAT AUTHORS SUPPORT EACH OTHER" (Fida Abbott, February 2013), itulah tema memperingati setahun novel Antusiasme yang diusung oleh penulisnya sendiri.
Sehubungan dengan tema tersebut, setelah pengumuman pemenang Duta Antusiasme, acara selanjutnya yang telah ditunggu-tunggu adalah wawancara bersama para penulis buku (solo, co-author, dan antologi) yang telah membaca Antusiasme atau Enthusiasm. Bagi siapa saja yang masuk dalam kategori tersebut dan berminat untuk berpartisipasi dalam ajang ini, silahkan menghubungi penulisnya melalui facebook, email atau "Contact me" di bagian bawah blog ini atau "Contact Form" di sebelah kanan bawah www.abbottsbooks.com.
Oleh karena perayaan setahun Antusiasme telah berlalu, maka para author yang masih berminat akan ditampilkan pada acara lainnya yang akan datang. Namun waktunya masih belum ditentukan.
Tampaknya acara wawancara ini semakin menarik dan banyak disukai. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung, telah melebihi 500 halaman dalam waktu sekitar dua minggu.
Baiklah, akhirnya kita sampai pada wawancara keenam. Yang akan ditampilkan di bawah ini adalah dengan seorang dosen Universitas Indonesia yang gemar sekali menulis cerita-cerita dan puisi yang mendesirkan hati. Siapakah ia? Ikutilah wawancara berikut ini bersama Rianti Setiadi.
A: Penulis Enthusiasm, FidaAbbott, berkata bahwa ia telah membaca dua buku Anda yang baru terbit berjudul Air Mata (kumpulan puisi) dan Cerita Mereka, Cerita Kita (25 kumpulan cerita yang menyentuh hati) yang menurutnya telah mendesirkan aura hatinya sehingga ia membacanya sekali duduk pada setiap buku Anda. Apa yang mendasari Anda berkeinginan menerbitkan kedua buku tersebut secara indie dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan, menyusun hingga menerbitkannya?
R: Saya
ingin menerbitkan kedua buku tersebut supaya tulisan saya tidak
berhenti pada diri saya sendiri tetapi dapat dinikmati oleh lebih banyak
orang. Dengan demikian, saya berharap ada lebih banyak orang yang
mendapat "berkat" melalui tulisan saya dan juga dapat
memberikan masukan berupa kritik maupun saran kepada saya. Dorongan dari
teman-teman yang pernah membaca tulisan saya, yang menyarankan untuk membukukannya, merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam
memotivasi saya untuk menerbitkan kedua buku tersebut.
Terima kasih saya kepada Mas Edy Zaqeus, Mas Wishnubroto dan Mbak Yunita
Harahap yang selalu mendukung saya untuk menulis.
Untuk buku Air Mata yang berupa
kumpulan 70 puisi, sebenarnya isi dari buku itu sudah sejak lama ada dan
tersimpan rapi dalam usb saya, sehingga untuk menerbitkannya tidak
begitu memakan waktu lama. Kira-kira hanya dibutuhkan
waktu selama satu bulan. Tapi jangan lupa, bahwa puisi-puisi tersebut
ditulis selama bertahun-tahun dalam catatan pribadi saya. Untuk buku Cerita Mereka, Cerita kita, saya
membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, berawal dari tulisan pengalaman
saya yang
saya share melalui FB dan ternyata banyak yang meminatinya. Karena itu
saya berusaha untuk memikirkan pengalaman-pengalaman saya yang lain
yang menyentuh dan dapat menjadi pelajaran bagi kita bersama. Maka
tersusunlah 25 kisah tersebut dalam waktu sekitar
tiga bulan.
R: Kebanyakan puisi maupun cerita yang saya tulis muncul dari pengalaman saya berkaitan dengan orang-orang atau kejadian-kejadian yang bersentuhan dengan saya. Ide tersebut muncul dari pengamatan saya terhadap segala sesuatu yang terjadi. Tentunya setiap hari kita akan berhadapan dengan banyak peristiwa. Dengan mengamatinya, maka kita bisa menuliskannya. Sayang, banyak peristiwa yang kita biarkan lalu begitu saja. Saya terdorong menuliskannya supaya apa yang ada di hati saya bisa tertuang dan siapa tahu dapat berbicara kepada orang lain. Warisan bagi anak-cucu untuk bvisa menceritakan kisah hidup saya. Kalau tidak ditulis bisa lupa.
A: Buku Cerita Mereka Cerita Kita banyak menyeritakan mengenai pengalaman Anda sebagai seorang dosen dan sahabat. Apakah komentar mereka—para dosen, teman-teman/sahabat, mahasiswa, dan lain-lainnya setelah membaca buku Anda? Komentar manakah yang menurut Anda sangat berkesan? Apa alasannya?
R: Ini pertanyaan yang sangat menarik bagi saya dan saya ingin membagikannya dengan penuh antusias. Karena saya adalah dosen matematika maka para dosen tidak begitu menanggapi terbitnya buku saya, mungkin karena tidak ada matematiknya sama sekali. Cuma mereka tahu bahwa saya "sedikit berbeda". Walaupun demikian ada juga beberapa dosen yang meminta buku tersebut. Teman-teman banyak sekali yang mendukung dan memberikan pujian terhadap buku tersebut. Yang paling seru adalah komentar mahasiswa. Mungkin mereka tidak menduga bahwa mereka mempunyai seorang dosen yang suka menulis.
Pada waktu saya mulai melempar cerita-cerita yang beberapa adalah kisah nyata yang saya alami bersama mereka, ramailah celotehan mahasiswa tersebut. Ada yang mengatakan: "Ibu salah masuk jurusan" atau mereka menanyakan siapa orang-orang yang terlibat dalam cerita tersebut karena saya tidak menyebutkan nama asli mereka. Ada pula yang meminta kalau buku tersebut "published" maka mahasiswa harus diberi "special price", kalau bisa dibagi-bagikan.
A: Apa rencana Anda selanjutnya dalam dunia tulis-menulis setelah menerbitkan kedua buku indie tersebut?
R: Akan terus menulis tentang gulir kehidupan yang belum berhenti. Ingin menerbitkannya di tangan penerbit supaya bisa terdistribusi lebih luas. Mungkin "menulis" bisa menjadi investasi saya utuk masa tua.
A: Apakah keistimewaan sebagai salah satu penulis yang menerbitkan buku secara indie? Trik-trik apa yang Anda gunakan untuk memasarkannya?
R: Keistimewaan menerbitkan buku secara indie adalah kita tidak perlu menunggu pihak penerbit untuk menerbitkannya. Kita juga bisa mendistribusikannya ke tempat-tempat yang kita inginkan yang mungkin tidak terjangkau oleh penerbit. Kemudian bisa mengeluarkan produk yang bersifat eksklusif. Menerbitkan buku secara indie ada keuntungan dan kerugiannya. Tapi dengan menerbitkan buku indie, saya cukup merasa bangga saat memberikannya pada orang lain. Untuk memasarkan buku saya sangat dibantu oleh mentor menulis saya, mas Edy Zaqeus yang sering memakai buku saya sebagai contoh sehingga banyak yang berminat. Selain itu melalui teman-teman, melalui jejaring sosial, bercerita pada mahasiswa/ dosen dan sebagainya. Memang penyebarannya agak kurang dibanding kalau buku tersebut diterbitkan oleh pihak penerbit.
A: Sebagai penulis, apa yang menjadi modal utama untuk meningkatkan kualitas penulisan Anda dan sumber apakah yang dapat memberikan/menjaga motivasi Anda untuk tetap menulis?
R: Menulis, belajar dari tulisan orang lain, belajar menulis dari penulis-penulis baik yang lebih berpengalaman maupun yang belum berpengalaman. Saya belum pernah memikirkan bagaimana menjaga supaya motivasi menulis saya tetap ada, karena saya belum pernah kehilangan motivasi untuk menulis. Mungkin akun jejaring sosial cukup membantu saya untuk menulis. Diskusi dengan teman-teman yang juga suka menulis, mengikuti training menulis juga sering menumbuhkan motivasi saya untuk menulis.
A: Sebagai salah satu pembaca novel Antusiasme, ceritakan bagaimana pertama kali Anda mengenalnya dan bagaimanakah mendapatkannya?
R: Pertama kali saya mengenal buku Antusiasme adalah rekomen dari sahabat saya, Yunita Harahap, dan kemudian membacanya di blog penulis buku ini (Mbak Fida) kemudian saya mencari buku tersebut. Saya mendapatkan buku Antusiasme dengan menghubungi Penerbit Bina Kasih yang menerbitkan buku ini. Ada pengalaman menarik di sini. Saya mengatakan pada penerbit bahwa saya sangat membutuhkan buku tersebut dan harus mendapatkannya kurang dari dua hari. Alkisah, buku tersebut diantar ke rumah saya. Pelayanan yang luar biasa!
A: Apa yang menjadi daya tarik dan motivasi Anda sehingga berkeinginan membeli buku tersebut dan membacanya?
R: Yang pertama menarik perhatian saya adalah tulisan sub judul 'Novel Perjuangan Seorang Penulis Meraih Mimpi'. Sepertinya penulis novel ini mempunyai impian yang sama dengan saya, ingin menulis. Dan untuk mewujudkan impiannya dia harus berjuang. Kata berjuang itu sangat menarik hati saya dan saya ingin mengetahui bagaimana perjuangan seorang penulis dalam meraih mimpinya. Siapa tahu dapat menjadi contoh dan penyemangat bagi saya.
A: Sebagai salah satu pembaca novel Antusiasme, hal apakah yang dapat Anda petik sebagai pembelajaran dari cerita tersebut?
R: Bagaimana seharusnya hidup sebagai istri dan ibu dalam keluarga; Semangat dan perjuangan yang luar biasa, sepertinya penulis mengajarkan "Jangan menyerah, karena menyerah itu gampang!"; Tidak ada jalan buntu kalau Tuhan menghendakinya. Semua yang terjadi, pintu yang terbuka adalah anugerah Tuhan semata, patut digunakan semaksimal mungkin; Siapa menabur dengan bertetesan airmata, akan menuai dengan sorak sorai.
A: Dari hasil menikmati Antusiasme, cerita apa yang menurut Anda paling menarik/berkesan atau paling disukai? Apakah alasannya dan dapat ditemukan di bab ke berapa?
R: Yang paling menarik bagi saya adalah cerita tentang kesukacitaan di bab 11. Cerita bagaimana Yuli ingin memesan buku memasak untuk memotivasi adik iparnya yang berpikir sudah tua dan tidak ingin produktif lagi. Hal ini mengajarkan pada saya bahwa kreativitas kita, mengerjakan apa yang Tuhan percayakan dapat berguna untuk memotivasi orang lain yang terpuruk dan tidak mempunyai semangat. Sukacita adalah judul yang tepat untuk bab ini karena jika karya kita dapat membantu orang lain, itu akan mendatangkan sukacita.
A: Kira-kira kepada siapa Anda merekomendasikan novel Antusiasme kepada para pembaca dan apakah alasannya?
R: Saya akan merekomendasikan buku ini, khususnya untuk orang-orang yang tidak bersemangat lagi dalam hidupnya atau bagi mereka yang suka mengasihani diri sendiri. Berharap perjuangan Mbak Fida bisa menjadi contoh yang menggugah semangat untuk berjuang.
A: Kembali mengenai dua buku Anda, Air Mata dan Cerita Mereka, Cerita Kita, kepada siapakah Anda merekomendasikannya dan bagaimanakah mendapatkannya?
R: Saya merekomendasikan kepada orang-orang yang bersentuhan dengan hidup manusia seperti mahasiswa, dosen, guru, konselor dan siapa saja yang punya hati pada sesama, pengamat kehidupan dan pecinta seni (untuk buku puisi khususnya). Tak lupa kepada orang-orang yang sedang belajar menulis. Sementara ini, kalau ingin mendapatkannya bisa email ke saya di ririnie@yahoo.com.sg atau add di FB dengan nama Rianti Setiadi lalu pesan di inbox. Berharap dalam waktu tidak terlalu lama buku tersebut sudah bisa diterbitkan oleh pihak penerbit sehingga dapat diperoleh di toko-toko buku.
Profil Penulis

Kegemarannya menulis sudah dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Dasar dan berlanjut sampai sekarang. Beberapa tulisannya pernah dipublikasikan di beberapa surat kabar harian dan majalah lokal saat ia duduk di bangku SMA. Tulisannya yang umumnya berupa cerita fiksi dan puisi tentang kehidupan sering dibacakan di beberapa pemancar radio di Jakarta. Pada acara-acara tertentu, penulis sering membacakan sendiri puisi yang ditulisnya.
Berangkat dari kumpulan tulisan dalam catatan pribadi dan didorong oleh beberapa rekan yang juga gemar menulis, mulailah timbul niat untuk menerbitkan kumpulan coretannya. Buku yang diterbitkan tahun 2006 dengan judul Rangkaian Penggal Perjalanan, diterbitkan oleh Pioneer Jaya; Cerita Mereka, Cerita Kita, dan Airmata, diterbitkan secara Indie, 2013. Beberapa tulisannya yang lain dapat dibaca pada blog yang dimilikinya: ririnie.blogspot.com (*)
Acara ini disponsori oleh:
dan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar